PENCABANGAN LINGUISTIK
DAN ANALISISNYA
( SINTAKSIS DAN SEMATIK
)
1.
Pengantar
Sebagai sebuah istilah,
linguistik dapat ditelusuri
asal-muasalnya secara etimologis. Istilah linguistik berasal dari bahasa
inggris linguistic yang berarti ‘ilmu
yang mempelajari bahasa’. Kata didalam bahasa lain yang berpadanan dengan kata linguistics, anatara lain lingistique (bahasa Prancis) dan lingusitiek (bahasa Belanda) yang
diturunkan dari bahasa Latin lingua
yang berarti ‘bahasa’.
Suhardi
(2013:13 - 14) menegaskan bahwa istilah lingustik
ynag digunakan oleh berbagai masyarakat bahasa setakat ini sebetulnya merupakan
adopsi dari bahasa Inggris, yaitu dari kata lingustics,
yang kemudian diserap menjadi linguistik.
Kata linguistik yang sudah sering kita gunakan dalam setiap pembelajaran
bahasa sebenarnya berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata lingua yang berarti ‘bahasa‘. Kata Lingua tersebut dapatr kita jumpai pula
dalam bahasa Prancis, yaitu langue,
langage, atau language. Kata yang
sama juga dapat kita jumpai dalam bahasa Itali, yaitu llingua dan dalam bahasa Spanyol, yaitu lengua. Bahasa Inggris sebetulnya juga meminjam istilah dari bahasa
Prancis, yaitu language yang kemudian
diubah menjadi lingustic.
Istilah
linguistik berarti ‘ilmu bahasa’. Lyons (1995:1) mengemukakan bahwa linguistik
merupakan kajian secara ilmiah. Linguistik merupakan ilmu yang berkaitan dengan
bahasa atau dapat disebut sebagai induk ilmu bahasa, seperti fonologi,
morfologi, sintaksis dan semantik. Seperti bahasa umum, kata “linguistik”
sering juga dipasngkan dengan kata “umum” sehingga menjadi “linguistik umum”
yaitu ilmu yang membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan bahasa secara
umum.
Linguistik modern
berasal dari sarjana Swiss bernama Ferdinand De Saussure. Linguistik modern
lahir ketika sarjana mulai melihat bahasa dari perspektif penuturnya (Simpson,
1983:37). Mereka melihat bahasa dari perspektif sikronik yang berbeda dengan
perspektif diakronik seperti yanng dilakukan ahli-ahli lingustik pada abad ke –
19. Perubahan pedekatan ini merujuk pada
ide Ferdinand De Saussure dalam buku yang terkenal setelah kematiannya, yang
ditulis oleh anak muridnya dengan judul Caurse
de Lingusitique Generale. Saussure tidak lagi melihat bahasa sebagai suatu
entitas yang dilihat dari luar dalam perubahannya yang mengikuti masa, tetapi
melihat bahasa dari dalam sebagai suatu sistem (langue). Sistem memperlihatkan potensi bahasa sebagai pilihan
kepada penutur untuk mengelurkan ujaran. Potensi ini dilihat dari hubungan
paradigmatik, yaitu hubungan antara lambang dan sistem. Berdasarkan ciri ini
Saussure melihat bahasa dari perspektif penuturnya karena pada saat penutur
berujar, ketika itulah sistem pilihan itu penting.
Saussure memebedakan
kata Prancis, yaitu langue dan langage. Ia juga membedakan parole (ujuran/tuturan) dari kedua
istilah tadi. Bagi de Saussure, langue adalah
salah satu bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa indonesia atau bahasa
inggris. Sebaliknya, langage berarti
bahasa sebagai suatu sifat khas makhluk manusia, seperti dalam ucapan “ manusia
memililki bahasa, sedangkan binatang tidak memiliki bahasa”. Adapun parole atau ‘tuturan’ adalah bahasa sebagaimana dipakai secara
konkret: “logat”, “ucapan”, atau “perkataan”. Parole merupan ujaran yang
berciri khas dan unik karena setiap individu memiliki parole yang berbeda
meskipun berbahasa menggunakan langue yang
sama. Parole bersifat khas perseorang sehingga sejajar maknnya dengan idiolek
atau idiosinkretik.
Sementara
itu, Robins (1992:25) mengatakan bahwa langue
merupakan struktur leksikel, gramatikal, dan fonologis suatu bahasa, dan
struktur ini sudah tertanam dalam pikiran penutur asli pada masa kanak kanak
sebagai hasil kolektif masyarakat bahsa yang dibayangkan sebagai suatu kesatuan
supraindividual. Dalam menggunakan bahasanya, penutur dapat berbicara dalam lingkup
langue ini; apa yang sebenarnya di
ucapkan adalah parole, dan
satu-satunya kendali yang dapat diatur adalah kapan dia harus berbicara dan apa
yang harus ia bicarakan. Kaidah leksikal, gramatikal, dan fonologis telah
dikusai dan dipakai, dan kaidah tersebut menentukan ruang lingkup pilihan yang
dapat dibuat oleh penutur. Perbedaan ini seprti apa yang dibut Chomsky, yaiyu
antara competence (apa yang secara
intuisi diketahui penutur tentang bahasanya ) dan perfomance (apa yang dilakukan penutur ketika dia menggunakan
bahasanya). Secara termonologis, oposisi antara competence dan perfomance sebenernya setara dengan pasang istilah language use dan language used; etic dan emic.
Dalam
bahasa Indonesia, ahli linguistik disebut ‘liguis’, yang dipinjem dari kata
dalam bahasa Inggris, yaitu linguist yang
berarti ‘seseorang yang fasih dalam pelbagai bahasa’. Sebaliknya sebagai
istilah ilmiah, linguis diartikan
sebagai ahli bahasa. Jelaslah bahwa orang yang fasih dalam beberapa bahasa
tidak mutlak perlu sama dengan orang ahli linguistik. Karena itu, perlu
dibedakan kata Inggris linguist dalam
bahsa sehari-hari dengan istilah linguis ‘ahli
linguistik’ (suyudi, 2014:1).
2.
Pembahasan
A.
Sintaksis
Kata sintaksis berasal
dari bahasa Yunani, yaitu “suntattein”, yang dibentuk dari kata “sun” yang
berarti ‘dengan’ dan “tattein” yang berarti ‘menempatkan’. Istilah “suntattein”
secara etimologi berarti menempatkan kata bersama-sama kata-kata menjadi
kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat.
(Verhaar, 1992:70, Suhardi,2008:31 – 32 ). Kata sintaksis dalam bahasa
Indonesia merupakan serapan dari bahasa Belanda, syntaxis, yang dalam bahsa Inggris disebut istilah syntex (Ramlan, 1987:21; Pateda,
1994:85).
Terdapat beberapa
batasan sintaksis yang dikemukakan oleh para tata bahasawan. Sintaksis menurut
Kridalaksana (1983:154) adalah pengaturan dan hubungan antara kata dan kata,
atau dengan satuan-satuan yang lebih besar itu dalam bahasa. Sementara itu,
Stryker (Tarigan, 1985:5)menyatakan bahwa sintaksis ilmu yang membahas pola
pola pengabungan kata kata menjadi kalimat.
Selanjutnya, Arifin dan
junaiyah (2008:1) menyatakan bahwa sintaksis merupakan cabang linguistik yang
membicarakan antara hubungan antarkata dalam tuturan (speech), dan unsur bahasa yang termasuk dalam lingkuo sintaksis
adalah frasa, klausa dan kalimat. Dari pelbagai pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwan sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membicarakan
seluk-beluk frasa, klausa dan kalimat dengan satuan terkecil berupa bentuk
bebas, yaitu kata (Sukini 2010:2-3). Sementara itu, Kentjono (2005:123)
menyatakan bahwa sintaksis merupakan studi gramatikal antarkata. Struktur yang
dimaksud adalah urutan kata.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, sintaksis dapat
diberi pengertian sebagai slah satu cabang linguistik mikro yanng mengkaji hal
ihwal atau tata bentuk kalimat sebuah bahasa dengan unit sebuah analisis berupa
kata, frasa, klausa dan kalimat. Adapun ciri-ciri sintaksis adalah
1. Salah
satu cabang linguistik mikro
2. Kajiannya
bersifat formal linguistik
3. Unit
analisisnya mulai dari kata (satuan terkecil) sampai dengan kalimat (satuan
terbesar).
4. Membicarakan
pengaturan dan hubungan antar kata dan kata
5. Ruang
lingkup sintaksis meliputi: kata, frasa, klausa dan kalimat.
Dalam ranah kajian
bahasa, sintaksis memiliki relasi dengan cabang linguistik mikro yang lain.
Dalam konteks ini, bahasa memiliki tiga subsistem yaitu (1). Fonologi, (2).
Gramatikal (3). Leksikon. Subsistem gramatikal atau tata bahasa terdiri atas
(a). Subsistem morfologis yang mencakup kata, bagian-bagian dari kata, dan
kejadian atau pembentukan kata; (b). Subsistem sintaksis mencakup kata dan
satuan satuan yang lebih besar daripada kata; serta hubungan antarsatuan-satuan
itu. Dengan demikian, sintaksis memiliki kaitan dengan morfologi karena
kedua-duanya merupakan komponen gramatikal(tata bahasa). Secara terperinci,
relasi sintaksis dan morfologi dapat dirumuskan sebagai berikut (1) sintaksis
dan morfologi termasuk kedalam cabang linguistik mikro, (2) sintaksis dan
morfologi merupakan komponen gramatikal atau subsistem gramatikal; (3)
sintaksis dan morfologi sama-sama mengkaji unit kata sebagai unit analisis; (4)
pembicaraan mengenai sintaksis tidak akan terlepas dari aspek morfologi karena
konstruksi sintaksis dibentuk dari satuan kata yang merupakan unit analisis
morfologi.
A.
Alat
alat sintaksis
Alat sintaksis
merupakan alat yang mengatur unsur unsur bahasasehingga terbentuk satuan bahasa
yang disebut kalimat. Alat alat sintaksis terdiri atas urutan, bentuk kata,
intonasi dan partikel atau kata tugas.
1).
Urutan
Peranan
urutan di dalam bahasa sangatlah penting karena ikut menentukan makna
gramatikal. Perhatikan kontruksi kontruksi yang dikontraskan berikut ini :
Tinggi gunung x gunung tinggi
Hutan perawan x perawan hutan
Pengusaha wanita x wanita pengusaha
Tiga jam x jam tiga
Roni merayu Rani di warung bakso
Rani merayu Roni di warung bakso
2).
Bentuk kata
Bentuk
kata sebagai alat sintaksis biasanya diperlihatkan oleh afiks. Dalam konteks
itu afiks-afiks memperlihatkan makna gramatikal yang beragam bergantung pada
bahasanya. Makna gramtikal itu, antara lain jumlah, orang , jenis, kala, aspek,
modus, pasif, diatesis, dan sebagainya. Perhatikan kontruksi kontruksi berikut
ini :
Michael Encun menikahi Cicih
Cicih dinikahi Michael Encun
Roberto Solihin memeluk Juwita
Juwita dipeluk Roberto Solihin
3).
Intonasi
Dalam
praktik tulis, intonasi secara kurang sempurna dinyatakan oleh pemakaian huruf
dan tanda baca. Intonsi dipakai untuk menjelaskan amanat yang hendak
disampaikan. Dalam konteks itu, intonasi berperan menentukan makna dan modus
kalimat, yakni deklaratif, introgratif, imperatif, dan ekslamatif.
Perhatikanlah konstruksi berikut ini:
Jambu monyet.
Jambu monyet!
Dia sudah tidur.
Dia sudah tidur?
Makan?
Makan!
4).
Partikel atau kata tugas
Partikel
atau kata tuagas sebagai salah satu alat sintaksis mempunyai ciri-ciri yang
membedakannya dengan kategori kata yang lain. Partikel atau kata tugas memiliki
beberapa ciri, yaitu (1) jumlah terbatas; (2) keanggotaan tertutup; (3) tidak
memiliki arti leksikel; (4) tidak mengalami proses morfologis; (5) terdapat
dalam semua wacana; (6) dikuasai dengan cara dihafal.
Perhatikan contoh berikut ini:
Dari,
ke, di, pada, ke, dan, atau, lalu, walau
Saya .......... Nagreg.
dari
ke
di
B.
Unit
Analisis atau Satuan Sintaksis
Setiap cabang lingustik
memiliki satuan analisis atau unit analisis/satuan gramatikal yang di kaji.
Begitupun dengan sintaksis. Satuan yang dikaji dalam sintaksis adalah kata,
frasa, klausa dan kalimat.
1.
Kata
Kata dapat digolongkan
atas dua jenis besar, yaitu partikel dan kata penuh. Partikel adalah kata yang
jumlahnya terbatas, biasanya tidak mengalami proses morfologis, bermakna
gramatikal, dan biasanya dikuasai dengan cara dihafal. Contoh partikel dalam
bahasa Indonesia adalah di, ke, dari,
yang dan pada. Adapun kata penuh
memiliki arti yang berlawanan dengan kata partikel, yang terutama dalah
maknanya bersifat leksikel. Kata penuh dapat dibedakan menjadi: nomina, verba,
adjektiva, adverbial, preposisi, kongjungsi, numeralia, dan lain-lain. Kata
sebagai satuan sintaksis memeiliki ciri sebagai berikut.
a. Satuan
gramatikal bebas terkecil dan berpotensi untuk berdiri sendiri.
b. Tak
serela
c. Satuan
yang dapat berpidah dalam kalimat
Kata dianggap sebagai
satuan bahasa yang mandiri, bebas, dan memiliki arti yang utuh, serta lengkap.
Kata dapat dibentuk dari satu morfem yang disebut sebagai kata monomorfemis
atau dibetuk lebih dari satu morfem yang disebut kata polimorfemis. Kata yang
berwujud satu morfem disebut sebagai kata dasar atau morfem sederhana,
sedangkan kata yang berwujud lebih dari satu morfem disebut morfem kompleks.
Kata dasar merupakan kata yang belum mengalami perubahaan bentuk asal sehingga
konstruksinya hanya memilki satu morfem, misal jatuh, cinta, datang, pergi dan
mati. Sementara kata kompleks, misalnya kata berimbuhan merupakan kata
jadian yang memiliki lebih dari satu morfem (morfem bebas dan morfem terikat).
Menurut Aristoteles,
kata dapat dikelompokan menjadi 10 kelas, yaitu sebagai berikut.
a.
Verba atau kata kerja,
missal tidur, mandi, makan, minum dan
pergi.
b.
Nomina atau kata benda,
misalnya sawah, kebun, motor, rumah dan
buku.
c.
Pronominal atau kata
ganti, misalnya aku, engkau, saya, dan
mereka.
d.
Numeralia atau kata
bilangan, misalnya satu, seratus dan setengah.
e.
Adjektiva atau kata
sifat, misalnya rajin, cantik, saleh, dan
cerdas.
f.
Adverbia atau kata
keterangan, misalnya agak, hanya, dan
sebenarnya.
g.
Interjeksi atau kata
seru, misalnya amboi, hore, dan wah.
h.
Preposisi atau kata
depan, misalnya di, ke, dari, pada, dan kepada
i.
Konjungsi atau kata
penghubung, contoh dan, atau, tetapi, dan
dengan.
j.
Partikel atau kata
sandang, contoh sang, si hyang
b). Frasa
Satuan yang secara
hierarkis berada diatas kata adalah frasa. Konstruksi frase memiliki beberapa
ciri, yaitu :
a.
Merupakan
ketatabahasaan
b.
Merupakan gabungan kata
atau terdiri dari atas dua kata atau lebih,
c.
Merupakan unsur kalimat
yang tidak melewati batas fungsi,
d.
Menduduki salah satu
fungsi di dalam kalimat ( S, P, O, Pel, dan K ),
e.
Sebuah unit konstruksi
frasa terdiri atas frasa-frasa yang lebih kecil,
f.
Hubungan antar komponen
frasa itu tidak bersifat predikatif dan tidak bersifat majemuk, dan
g.
Unsur pembangun frasa
dapat berupa kata dan kata, kata dan frasa atau frasa dan frasa.
Frasa
dapat dikelompokan berdasarkan (a) sistem distribusi unsur-unsurnya, (b)
kesamaan distribusinya dengan kata. Berikut ini dijelaskan jenis-jenis frasa
berdasarkan dua kriteria tersebut.
BERDASARKAN
SISTEM DISTRIBUSI
Distribusi
adalah semua posisi yang ditempati oleh suatu unsur bahasa. Ada dua posisi
dalam distribusi yaitu posisi objek dsn posisi subjek. Perhatikan kontruksi buku tulis dan keuntungan dalam kalimat berikut ini :
Posisi
subjek
a. Buku
tulis
banyak dibeli orang tua diawal
pembelajaran.
b.
Keuntungan itu
banyak diperoleh pedagang dari penjualan buah-buahan.
Posisi
objek
a. Para
mahasiswa membagikan kepada kanak-kanak buku tulis
b. Pedagang
buah-buahan hari ini mendapatkan keuntungan
Berdasarkan sistem
distribusi,frase dikelompokkan menjadi : (1) frasa endosentrik (2) frasa
eksosentrik.
Frasa
Endosentri
Frasa
yang berdistribusi sama dengan salah satu unsurnya atau dengan semua unsurnya.
Ada tiga frasa dalam frasa endrosentik yaitu :
1) Frasa
endrosentik atribut
Frasa
yang memiliki unsur inti dan unsur atribut,berdistribusi sama dengan salah satu
unsure,misalnya
Anak cerdas
Tidak berangkat
sedang berpidato
pintu
ruangan
itu
Dalam
kontruksi frasa-frasa tersebut,anak,berangkat,berpidato
dan pintu merupakan unsur inti.
Sementara itu, cerdas,tidak,sedang dan
ruangan itu merupakan atribut. Setiap
frasa dalam endosentrik atribut dapat ditemukan pola hubungan
antarunsur-unsurnya.
a. Berpola
D-M,misalnya pemuda pemberani
b.
Berpola M-D,misalnya sedang makan
Unsur inti selalu merupakan unsur
D,sedangkan unsure atribut selalu M. Frasa endosentrik atribut ada yang
memiliki dua atribut,misalnya :
a. Hanya
diam saja : M-D-M
b. Belum
bekerja juga : M-D-M
c. Tidak
hanya menyuruh : M-(m-d) D
2) Frasa
Endrosentik koordinatif
Frasa yang semua
unsurnya berdistribusi sama dengan frasa yang bersangkutan.misalnya :
Sapi
dan kuda (unsurnya: sapi, kuda )
Ayah
dan ibu (unsurnya : ayah, ibu )
Baik hari Ini maupun hari esok (unsurnya : hari kini, hari esok
)
Donita
dan anaknya
(unsurnya : Donita,anaknya)
Unsur-unsur
pembentuk frasa endosentrik koordinatif memiliki hubungan yang setar. Didalam
frasa jenis ini,terdapat seperangkat kata perangkai,seperti,dan,atau,baik….maupun, dan lazim disebut sebagai unsur koordinatif.
3) Frasa
endosentrik apositif
Kata positif berasal
dari “aposisi” yag berarti ‘ungkapan yang menerangkan atau memberikan
keterangan tantang ungkapan sebelumnya’.
Dalam frasa endrosentik apositif ada
unsur yang diterangkan atau unsur utama (D) dan dan unsur yang menerangkan (M).kedudukan
frasa tersebut dapat berdistribusi sama dengan frasa yang bersangkutan.
Contoh :
Asep, suami Nadia, mengejar
ngejar seekor ayam. Lovina, menantunya,
dating dari garut.
Distribusi
frasa tersebut sama dengan distribusi unsur-unsurnya tampak dalam kalimat
berikut ini :
Suami
Nadia mengeejar-ngejar seekor ayam.
Lovina
dating dari Garut.
Frasa
endosentrik apositif merupakan frasab yang berdistribusi sama dengan semua
unsurnya. Unsur yang kedua memberikan penjelasan tentan unsur yang pertama.
Frasa
Ekosentrik
Farsa ekosentrik
memiliki system distribusi yang berdbeda dengan frasa endosentrik,yaitu tidak
memiliki system distribusi yang sama,baik dengan salh satu maupun dengan semua
unsurnya. Frasa ekosentrik adalah frasa yang sebagian atau seluruhnya tidak
mempunyai prilaku sintaksis yang sama dengan komponen-komponennya. Frase
ekosentrik mempunyai dua komponen,yaitu (1) bagian “perangkai” berupa preposisi
atau partikel,sepert si,para dan kaum, (2) bagian “sumbu” berupa kata
atau kelompok kata. Frasa yang berangkai preposisi disebut frasa ekosentris
atau frasa preposisional dan yang berperangkai lain disebut ekosentris
nondirektif.
Frasa
ekosentrik direktif
Terdiri atas unsur preposisi atau kata depan dan kata
benda,atau kata sifat. Pada frasa ekosentrik direktif,prilaku keseluruhan frasa
tidak sama dengan komponen-komponen pembentuknya,baik denga peposisi maupun
dengan sumbunya.Frasa ini memiliki beberapa pola,yaitu sebagai berikut :
a)
F.Prep Prep.
Dasar + N,FN,A,Num
Contoh
:
Bak bidadari
Demi cinta
Dengan optimis
b)
F.Prep Prep.Dasar
+ N,FN,Pr,FPr
Contoh
:
Oleh sebab itu
Dari pada
c)
F.Prep Prep,Dasar + N tempat + N,FN,Pr
Contoh
:
atas
bawah
depan
luar
Di dekat
Ke
+ muka
Dari samping
d)
F.Prep Prep.Deverbal + Prep.Dasar + F,Pr,A
Contoh
:
Seiring dengan
Berhubungan dengan
Menuju ke
Sampai dengan
Mengingat akan
e)
F. Prep Prep.Denomina + Prep.Dasar
+ (V,N,A,Pr)
Contoh
:
Lantaran terkejut
Sebab dia
f) F.Prep.
‘! Prep.Deverbal + N,Pr,A
Contoh
:
Sampai marah
Tentang kami
Didalam
konteks kalimat,frasa ekosentrik direktif yang berunsur preposisi semua
unsur-umsurnya tidak berdistribusi sama atau tidak setaradan salah satu
unsurnya tidak dapat dihilangkan. Jika itu terjadi makna kalimat menjadi tidak
jelas. Perhatikan kontruksi-kontruksi berikut ini.
a. Hadiah
ini untuk.
b. Hadiah
ini temannya
c. Mahasiswa
itu bersikap terhadap.
d. Mahasiswa
itu bersikap baik siapa pun
Sebagai
kalimat,konstruksi-konstruksi tersebutntidak memiliki makna yang jelas sehingga
tidak diketahui maksud apa yang ingin disampaikan. Hal itu terjadi karena pada
kalimat a,dihilangkannya unsur temannya,pada
kalimat c, dihilangkannya unsur siapa
pun,serta pelepasan unsur preposisi untuk
(pada kalimat b),preposisi terhadap
(kalimat d).
Bandingkanlah dengan
kalimat berikut ini :
a. Hadiah
ini untuk temannya
b.
Mahasiswa itu bersikap
baik terhadap siapa pun
Frasa
Ekosentrik Nondirektif
Ada
dua jenis frasa ekosentrik nondirektif,yaitu frasa yang seluruhnya tidak
berprilaku sama dengan bagian-bagiannya dan frasa yang seluruhnya berprilaku
sama dengan salah satu bagiannya,yaitu dengan sumbunya.
Pola-pola frasa nondirektif adalah :
a)
F.Nondirektif si
+ N,A
Sang
Hyang
Para
kaum
Contoh :
Si bisu
Hyang agung
Sang istri
Kaum zalim
b)
F.Nondirektif yang + A,F,Dem
Contoh
:
Yang dating
c)
F.Nondirektif artikula
+ A1 + A2
Contoh
:
Para kafir miskin
Kaum cerdik pandai
BERDASARKAN
KESAMAAN DISTRIBUSINYA DENGAN KATA
Frasa
Nominal
Semua
frasa yang berdistribusi sama dengan nomina atau berintikan nomina.
misalnya :
ruangan
kuliah
gedung
sekolah
halaman
kampus
Frasa
Verbal
semua frasa yang
berdistribusi sama dengan verba.
Misalnya :
Duduk
dan berdiri saja
Hanya
membaca
Makan
dan minum
Frasa
adjektival
Frasa
yang berdistribusi sama dengan adjektiva. Misalnya :
Kurang hati-hati
Terlalu lambat
Cantik
dan cerdas
Farsa
Numeralia
Frasa
yang berdistribusi sama dengan numeral (kata bilangan) atau kata yang intinya
bilanngan, atau frasa yang semua unsurnya berupa kata bilangan. Misalnya : enam
potong
Sembilan helai
Frasa
adverbial
Frasa
yang berdistribusi sama dengan adverbial (kata keterangan). Misalnya : kemarin
sore
Pantas saja
Frasa
Preposisional
Frasa
yang salah satu unsurnya adalah preposisi atau frasa yang diawali dengan
preposisi.
Misalnya : di kaki gunung
Tanpa mereka
2.
Klausa
Satuan yang berada
diatas frasa adalah klausa, yakni satauan gramatikal yang sekurang kurangnya
terdiri atas subjek dan predikat, baik disertai objek, pelengkap atau
keterangan maupun tidak dan berpotensi menjadi kalimat.
Satuan gramatikal ynag berbentuk klausa bisa terdiri
atas: S+P+O, S+P+Pel, S+P+O+K,
S+P+O+Pel+K, S+P atau hanya terdiri atas P.
Contoh : - #belajarlah# (P). Dari contoh tersebut dapat menjadi kalimat yaitu : Belajarlah
!
Klausa
dapat diklasipikasi dengan tiga macam cara, yaitu 1. Berdasarkan sifat
distribusinya, 2. Berdasarkan katergori predikat, 3. Berdasarkan perananya
dalam kalimat majemuk.
BERDASARKAN
SIFAT DISTRIBUSINYA
Berdasrkan sifat distribusinya klausa dapat dikelompokan
menjadi sebagai berikut : (a) klausa bebes (mandiri/independen) dan (b) klausa terikat (tak mandiri/dependen).
BERDASARKAN
KATEGORI PREDIKAT
Berdasarkan
kategori kata atau frasa pengisi predikat, klausa dapat diklasifikasikan atas
lima jenis, yaitu : (1) klausa nominal, (2) klausa verbal, (3) klausa
adjectival, (4) klausa bilangan dan (5) klausa preposisional.
1.
Klausa
nominal
Klausa nominal merupakan klausa yang
berpredikat kata benda atau frasa nominal.
2.
Klausa
verbal
Klausa verbal adalah
klausa yang berpredikat kata kerja atau fasa
Verbal.
Klausa verbal dapat dikalsifikasi lagi menjadi klausa verbal aktif, pasif dan
kopulatif.
a.
Kata verbal aktif:
klausa yang berpredikat kata kerja atau frasa verbal yang berimbuhan ber- dan meng-. Subjek klausa melakukan
pekerjaan tertentu.
b.
Klausa verbal pasif:
klausa yang berpredikat kata kerja atau frasa verbal yang berimbuhan di, ter, ke + an, dan berkata ganti
pertama atau kedua. Subjek klausa verbal pasif lajimnya dikenai pekerjaan
tertentu.
3.
Klausa
adjectival
Klausa adjectival adalah klausa yang
berpredikat kata sifat, kata keadaan, atau frasa adjectival.
4.
Klausa
bilangan
Klausa bilangan adalah klausa yang
berpredikat kata bilanga atau frasa bilangan.
5.
Klausa
preposisional
Klausa preposisional dalah klausa yang berpredikat
preposisi atau frasa preposisional
KLAUSA DALAM
PERANANNYA DALAM KALIMAT KOMPLEKS
Berdasarkan
perannya dalam kalimat kompleks
(majemuk), klausa dapat diklasifikasikan atas dua jenis, yakni klausa utama
(klausa inti), dan klausa bawahan. Klausa utama (inti) lazim disebut induk
kalimat, sedangkan klausa bawahan lazim disebut anak kalimat.
Selain
pengelompokan tersebut, terdapat klasifikasi lain yang disampaikan Kridalaksan
(1999:172), yaitu sebagai berikut :
KLAUSA
BERDASARKAN POTENSINYA UNTUK MENJADI KALIMAT
Berdasarkan
potensinya untuk menjadi kalimat, klausa dapat dikelompokan sebagai berikut:
(a) klausa lengkap: klausa yang memiliki potensi utuk menjadi kalimat mandiri
dan takmandiri, (b) klausa taklengkap: klausa yang tidak memiliki potensi
menjadi kalimat mandiri.
KLAUSA
BERDASARKAN INTINYA
Berdasarkan
intinya klausa dapat dikelompokan menjadi (1) klausa verbal dan (2) klausa
nonverbal.
1. Klausa
verbal
ð Klausa
yang predikatnya verbal. Ada beberapa klausa verbal yaitu: transitif , intransitive,
aktif, refleksif, resiprokal, anitipasif, antiaktif (ergatif), ekuatif, dan
kopulatif.
Klausa verbal katif
merupakan klausa yang menujukan bahwa subjek mengerjakan pekerjaan sebagaimana
yang disebutkan dalam predikat verbalnya. Predikat verbalnya ditandai oleh
prefix meng-, ber- atau tidak ditandai prefik apapun.
Klausa verbal pasif
merupakan klausa yang subjeknya merupakan sasaran dari perbuatan sebagaimana
disebutkan dalam predikat verbalnya. Predikat verbal ditandai oleh:di, ter-, dan ber-
Klausa verbal refleksif
merupakan klausa transitif yang menujukan bahwa subjek merupakan pelaku
sekaligus sasaran pekerjaan verbalnya. Predikat verbal ditandai oleh :
(a) Prefik
ber-, misalnya ia bercukur
(b) Sasaran
dikatakan dengan kata diri, misalnya ia melarikan diri.
Klausa verbal
resiprokal merupakan klausa transitif yang menunjukan bahwa
(a) Subjek
pluralis: melakukan pekerjaan berbalasan seperti dinyatakan dalam predikat
verbalnya, dan predikat itu ditandai oleh:
(1)
Prefik ber- , contoh: mereka berkelahi
(2)
Konfik ber + an ,
contoh: kedua pernyataan itu bertentangan
(3)
Diawali saling me-, contoh: kedua orang itu saling memukul
(b) Subjek
singularis: melakukan pekerjaan berbalasan dengan objek dan verbalnya ditandai
oleh ber- V-an, contoh: ia
berpandangan dengan temannya
Klausa
verbal antipasif merupakan klausa verbal aktif dengan objek generic, misalnya:
Adik gemar membaca buku
(buku gemar dibaca adik* )
Klausa
verbal antipasif merupakan klausa aktif yang tidak dapat dipasifkan. Hala itu ditujukan
oleh hal diatas. Padanan pasif yang dapat dikemukakan dari klausa-klausa
tersebut, yakni buku gemar di baca adik merupakan klausa
pasif yang tidak berterima.
2. Klausa
Nonverbal
ð Klausa
yang predikatnya, antara lain nomina, frasa nominal, adjektiva,
frasa
adjectival, preposisi, frasa preposisional, numeral, frasa numeral, dan
adverbial. Misalnya: Tati ke mal tadi, anaknya tujuh
3.
Kalimat
Satuan tertinggi
yangdikajidi dalam sintaksis adalah kalimat. Alisjahbana menyatakan bahwa
kalimat adalah (1) satuan bentuk bahasa terkecil yang mengungkapkan suatu
pikiran yang lengkap dan (2) satuan kumpulan kata terkecil yang mengandung
pengertian yang lengkap. Ungkapan yang mengandung pikiran yang lengkap adalah
ciri khas pendapat kaum tradisional.
Menurut pendapat kaum
structural, kalimt adalah (1) satuan gramatikal yang dibatasi oleh jeda panjang
yang disertai nada akhir turun naik dan (2) satuan bagian ujaran yang didahului
dan dikikutioleh kesenyapan, dan intonasinya yang turun dan naik menujukan
bahwa ujaran itu sudah lengkap. Sementara itu menurut KBBI (2008:609) kalimat adlah (1) kesatuan ujran yang mengukapkan
suastu konsep pikiran atau perasaan; (2) perkataan; (3) satuan bahsa yang
secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secra actual
ataupun potensiasl terdiri atas klausa.
Adapun definisi kalimat
menurut Kridalaksana (1993:92) adalah (1) satuan bahasa yang secara relative
berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara actual dan potensial
terdiri atas klausa, (2) klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan;
satuan proposisi ysang merupakan gabungan klausa atau satu klausa, yang
membentuk satuana yang bebas; jawaban minimal, seruan, salam dan sebagainya,
(3) sataun gramatikal yang terdiri atas satu atau lebih klausa yang ditata
menurut pola tertentu, dandapat berdiri sendiri sebagai satu satuan.
Syarat
Kalimat dan Pengetesannya
Kalimat
memeiliki persyaratan pokok, yaitu (1) memeiliki predikat dan (2) dapat
dipermutasi. Dengan perkataan lain, konstruksi yang memenuhi persyaratan pokok
tersebut dapat ditentukan sebagai kalimat. Kalimat merupakan satauan yang
bersifat predikatif. Selain dicirikan oleh predikat, kalimat dicirikan oleh
kemungkinannya dipermutasi atau unsur-unsurnya berpindah tempat atau lokasi.
Suatu pernyataan
merupakan kalimat jika didalam pernyataan itu sekurang-kurangnya terdapat
predikat dan subjek, baik disertai objek, pelengkap, keterangan ataupun tidak
bergantung kepada tipe verbal predikat kalimat tersebut. Jika dituliskan,
kalimat diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda titik, tanda seru atau
tanda Tanya. Menurut kaidah ejaan kalimat adalah untaian kata ayang diawali
huruf capital pada awal kata dan diakhiri tanda titik, tanda seru atau tanda
Tanya.
UNSUR
PEMBANGUN KALIMAT
a.
Unsur
segmental
Unsur yang berupa bagian-bagian
yang satu dengan yang lain membangun sebuah system yaitu system kalimat. Unsur
segmental dapat dibaca, didengar, dan yang stau dengan yang lainnya dapat
dipisah-pisahkan secara konkret. Unsur segmental berwujud sebagai bagian atau
segmen dari suatu konstruksi.
1) Kata
pokok,frasa dan klausa
Alat pembangun kalimat
yang tergolongunsur segmen adalah kata pokok dengan bentuk perluasannya
yangberupa frasa dan klausa.
2) Susunan
kata yang sistematis
Pada umumnya,kalimat
itu merupakan susunan kata-kata.kalimat yang tidak merupakan susunan kata-kata
akan tidak jelas maksudnya atau tidak mengandung maksud
3) Kata
tugas
Kata tugas adalah semua
kata yang memiliki peranan dalam membangun kalimat tetapi tidak memiliki arti
leksikal. Dua kategori kata tugas yang menonjol reposisi dan konjungsi.
4) Bentuk
Kata
Bentuk kata meerupakan
unsursegmental yang memiliki andil dalam membangun kalimat. Jika sebuah kalimat
memiliki bentuk yang tidak semestinya,kalimat itu akan tergolong sebagai
kalimat yang tidak baik atau tidak teratur.
b.
Unsur
suprasegmental
Ada dua jenis unsur suprasegmental, yakni jeda dan
intonasi. Jeda adalah penghentian sebentar dalam ujaran. Ramlan memilih jeda
itu menjadi jeda pendek, sedang dan panjang. Jeda pendek adalah penghentian
antarkata dalam satuan fungsi kalimat.
Jeda sedang adalah penghentian antar fungsi dalam kalimat. Jeda panjang adlah
penghentian antar kalimat.
Kalimat dapat di kategorikan berdasarkan lima
kriteria yaitu berdasarkan (1) jumlah dan macam klausa (2) struktur intern
klausa, (3) jenis tanggapan yang diharapkan,(4) sifat hubungan pelaku dan
perbuataan (5) ada atau tidaknyaunsur ingkar didalam predikat pertama.
Berdasarkan jumlah dan macam klausanya
(a) Kalimat
sederhana atau kalimat tunggal
(b) Kalimat
bersusun
(c) Kalimat
majemuk
(d) Kalimat
majemuk bersusun
Berdasarkan struktur
intern klausa utamanya
a) Kalimat
lengkap
b) Kalimat
tak lengkap
Berdasarkan jenis
tanggapan yag diharapkan
a) Kalimat
pernyataan
b) Kalimat
pertanyaan
c) Kalimat
perintah
Berdasarkan sifat
hubungan antara pelaku dan perbuaatan
a) Kalimat
aktif,yaitu kalimat yanang memperlihatkan subjek sebagai pelaku.
b) Kalimat
pasif,yaitu kalimat yang memperliatkan subjek.
c) Kalimat
tengah ,yaitu kalimat yang subjeknya merupakan pelaku dan tujuan.
d) Kalimat
netral,yaitu kalimat yang tidak berstruktur pelaku perbuatan.
Berdasarkan ada atau
tidaknya unsur ingkar atau unsur negative didalam predikatnya
a) Kalimat
positif atau kalimat afirnatif, yaitu kalimat yang tidak mengandung unsur
negatif.
b) Kalimat
negatif atau kalimat ingkar, yaitu kalimat yang mengandung unsur negatif.
Kalimat dapat pula diklasifikasikan dengan
menggunakan tinjauan sebagai berikut : (1) bentuk sintaksis (2) peran subjek
(3)jumlah klausa (4) cara pengungkapan (5) keefektifan.
JENIS
KALIMAT DITINJAU DARI BENTUK SINTAKSISNYA
1.
Kalimat
Berita (Deklaratif)
Kalimat
berita yang lazimdisebut kalimat deklaratif
ialah kalimat nerisi pernyataan ataun pemberitaan dari pembicara atau
penulis tentang sesuatu kepada pembaca atau pendengar. Kalimat jenis ini
bertujuan agar pendengar atau pembaca mengetahui apa yang ditulis atau di
ucapkannya. Kalimat berita memiliki karakteristik, yakni sebagai berikut: (1)
isisnya merupakan pemberitaan; (2) dalam bahasa tulisan, kalimat berita
diakhiri tanda titik, sedangkan dalam bahasa lisan diakhiri dengan nada
menurun; (3) memeiliki bentuk pengingkaran dengan menambahkan kata ingkar tidak, bukan dan belum.
2.
Kalimat
perintah (imperatif)
Kalimat perintah ialah
kalimat yang isinya berupa perintah dari pembicara kepada pihak lain. Tujuan
kalimat perintah adalah adanya respon tindakan yang dilakukan oleh lawan
bicara. Jika dalam kalimat Tanya sering digunakan partikel –kah dan –tah,dalam kalimat perintah lazim digunakan partikel
penegas –lah. Kalimat perintah
memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) terbatas hanya pada kalimat yang P
nya verba; (2) pelaku dalam kalimat perintah adalha orang kedua (tunggal
ataupun jamak) dan dapat pula orang pertama jamak insklusif (kita): pelaku tidak selalmuncul (4)
untuk memperhalus perungkapan, dibubuhkan partikel –lah, setelah verba atau kata coba,
tolong, silakan sebelum verba,atau mari sebelum pelaku orang pertama jamak
inklusif; (5) dalam bahsa lisan, kalimat perintah ditandai dengan nada turun
atau nada turun kemudian naik pada akhir kalimat.
JENIS
KALIMAT PERINTAH BERDASARKAN ISINYA
a.
Kalimat
perintah sebenarnya
Kalimat perintah
sebenaranya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) ditandai dengan intonasi perintah
yang jelas; (2) kata kerja yang digunakan lazimnya kata kerja intransitive; (3)
ditandai juga dengan penggunaan partikel –lah
dan kata-kata pelemah atau penghalus seperti coba dan tolong .
b.
Kalimat
ajakan
Kalimat ajakan
merupakan kalimat perintah yang isinya mengajak pihak lain untuk melakukan
sesuatu bersama-sama dengan pembicara. Kalimat jenis ini memiliki ciri sebagai
berikut (1) sering menggunakan kata ganti “kita” (2) intonasi perintahnya
sangat lemah (3) lazim pula digunakan kata-kata tambahan untuk mengajak, seperti mari, ayo, yang kadang-kadang berpartikel –lah.
c.
Kalimat
laranagan
Kalimat larangan
merupakankalimat perintah yang isinya melarang pihak lain untuk melakukan
sesuatu, seperti kata: jangan, dilarang,
tidak boleh, dan tidak dibenarkan.
d.
Kalimat
perasilaan
Kalimat persilaan
merupakan kalimat perintah yang sangat halus. Kata-kata khas dalam kalimat
persilaan adalah silakan,
memepersilaskan, dilarang terlarang, tidak boleh,, dan tidak dibenarkan.
e.
Kalimat
imbauan
Kaliamt imbauan
merupakan jenis kalimat perintah untuk melakukan tindakan tertentu. Kata-kata
khasnya adalah imbauan, menghimbau, dan
diimbaukan.
f.
Kalimat
harapan dan permohonan
Intonasinya mirip
dengan intonasi pernyataan. Kata-kata yang khas digunakan adalah mohon,
dimohon, harap, diharapkan dan diizinkan.
g.
Kalimat
Panggilan.
Kalimat perintah yang isinya meminta
seseorang untuk datang/menemui pengungkap kalimat.
h.
Kalimat Seru
Kalimat yang bermakna seruan dari
pengungkap kalimat.
i.
Kalimat Tanya
Kalimat tanya yang lazim disebut
kalimat introgratif ialah kalimta yang berisi pertanyaan dari penulis atau
pembicara.
Berdasarkan hubungan sematis antara
unsur subjek dan predikat, kalimat terbagi atas (1) kalimat aktif, (2) kalimat pasif, (3) kalimat medial dan (4)
kalimat resiprokal.
(1)
KALIMAT AKTIF
Kalimat verbal yang subjeknya
melakukan pekerjaan yang dinyatakan oleh predikatnya. Bentuk predikat jenis ini
lazimnya berupa verba berimbuhan meng-,
meng- + -in,meng- + -in, dan ber. Berdasarkan jenis predikatnya, kalimat aktif
terbagi ataskalimat aktif transitif , semitransitif, intransitive, dan
transitif –tak transitif.
a)
Kalimat
aktif transitif
Kalimat
yang predikatnya diikuti objek, mungkin satu objek, mungkin dua objek.
b)
Kalimat
aktif semitransitif
Kalimat
aktif yang predikatnya secara langsung diikuti pelengkap. Pada umumnya jenis
kalimat ini berpredikat verba berimbuhan ber-
dan ber- + -kan.
Contoh : beristrikan,
c)
Kalimat
intransitive
Kalimat intansitif lazim disebut
kalimat yang tidak berobjek. Artinya predikat tidak diikuti objek.
d)
Kalimat
transitif dan taktransitif
Kalimat transitif dan
taktransitif ialah kalimat ‘transitif’
yang lazimtidak dilengkapi objek kalimat. Kalimat jenis ini pun tidak dapat diubah menjdai kalimat pasif
(2)
KALIMAT
PASIF
Kalimat pasif ialah
kalimat verbal yang subjeknya dikenai pekerjaan yang dinyatakan predikat.
Bentuk predikat kalimat pasif ada empat macam, yaitu bentuk di-, bentuk ter-, bentuk ke- + -an,
dan bentuk persona.
a)
Kalimat
pasif bentuk di-
Kalimat pasif bentuk di
lazim disebut kalimat pasif umum. Sebagai imbihan, di- lazim hadir dalam bentuk
gabungan dengan imbuhan lain sehingga lahirlah bentuk di- + -kan, di- + -i, diper- + -kan, dan diper- + -i. contoh :
diperiksa
b)
Kalimat
pasif bentuk ter-
Kalimat pasif bentuk
ter-secara semantic lazim disebut
pasif keadaan. Contoh: tertutup
c)
Kalimat
pasif bentuk ke- + -an
Kalimat pasif yang
predikatnya kata kerja berimbuhan ke- + -an. Contoh: kehujanan
d)
Kalimat
pasif persona
Kalimat pasif yang
memiliki predikat yang didahului kata ganti persona, terutama persona pertama
dan kedua, seperti kami, kita, anda,
engkau, bapak-bapak, dan hadirin. Inti predikat berbentuk pokok kata kerja, seperti baca, tulis, perhatikan, harapakan dan tepati. Antara kata ganti persona dan pokok kata kerja
tidak dapat disisipkan kata apapun. Contoh : pengumuman libur itu kami
tulis.
e)
Kalimat
medial
Kalimat yang
berpredikat kata kerja transitif dengan objek diri subjeknya sendiri. Karena
itu lazim disertai kata keterangan sendiri.
Contoh: pelukis itu melukis wajahnya sendiri.
f)
Kalimat
resiprokal
Kalimat yang
berpredikat verba yang menyatakan makna ‘saling’. Kalimat resiprokal lazim
menggunakan kata saling. Predikat
kalimat resiprokal lazim pula memerankan verba bentuk reduplikasi (kata ulang)
dengan imbuhan ber- + -an. Contoh :
Akhirnya mereka saling memeluk.
Akhirnya kedua remaja
itu bersalam-salaman.
Berdasarkan pemberian
penekana maksud kalimat terdapat unsur inti, yaitu unsur predikat atau subjek,
kalimat dapat dikelompokan menjadi (1) kalimat inversi dan (2) kalimat empatik.
(1)
Kalimat
inversi
Kalimat yang sussunan
intinya: predikat – subjek (P+S).
predikat disebut terlebih dahulu karena bagian ini memeproleh penekanan
maksuddari pembaca kadang-kadang unsur predikat dibubuhi partikel penegas –lah.
(2)
Kalimat
empatik
Kalimat empatik juga
kalimat yang memberikan penekanan, tetapi terhadap unsur subjek.
Berdasarkan katagori
kata atau frasa pendukung fungsi predikat, kalimat dapat dikelompokan menjadi
(1) kalimat verbal, (2) kalimat nominal, (3) kalimat adjectival, (4) kalimat
bilangan, dan (5) kalimat preposisional.
Berdasarkan ada tidak
adanaya kata negasi di depan predikat kalimat, kalimatb dapat dikelompokan
menjadi (1) kalimat afirmatif dan (2) kalimat negative.
(1)
Kalimat
afirmatif
Kalimat ini lazim
disebut kalimat positif. Ditandai dengan tidak adanya kata negasi di depan
predikat. Contoh: Letak puskesmas jauh dari rumahnya.
(2)
Kalimat
negative
Kalimat yang
ditandai oleh adanya kata negasi di
depan predikat. Contoh : Letak puskesmas tidak jauh dari rumahnya.
KALIMAT
DITINJAU DARI PERAN FUNGSI SINTAKSISNYA
Jika dilihat dari peran
sintaksis (terutama subjek), kalimat terbagi atas: (1) kalimat aktif dan (2)
kalimat pasif.
JENIS
KALIMAT DITINJAU DARI JUMLAH KLAUSANYA
Ditinjau
dari jumlah klausa pembentuknya, kalimat dapat dikelompokan menjadi dua jenis,
yaitu (1) kalimat tunggal dan (2) kalimat majemuk.
JENIS KALIMAT
DITINJAU DARI PENGUNGKAPANNYA
Ditinaju
dari pengungkapannya, kalimat dapat dikelompokan menjadi dua jenis, yaitu(1)
kalimat langsung dan (2) kalimat tidak langsung.
·
Contoh kalimat langsung
misalnya : Ibu berkata, “ saya nanti akan membayar rekening di bank .“
·
Contoh kalimat tidak
langsung misalnya : Ibu berkata ia nanti akan membayar rekening di bank.
KALIMAT
DITINJAU DARI KEEFEKTIFANNYA
Berdasarkan
efektifannya, kalimat dapat dikelompokan menjadi kalimat yang efektif dan
kalimat yang tidak efektifan. Kalimat efektif merupakan kalimat yang mampu
menyampaikan pesan sebagaimana yang dimaksudkan oleh penyampainya (pembicara
dan penulis) sehingga penerima (pendengar atau pembaca) dapat menerima pesan
sesuai dengan apa yang dimaksud oleh pembicara. Dengan demikian kalimat tidak efektif
merupakan kalimat yang tidak dapat
menyampaikan pesan sebagaimana yang dimaksud oleh penyampai sehingga
penerima pesan sulit atau tidak dapat menerima pesan yang dimaksudkan.
Untuk
dapatdisebut sebagai kalimat efektif, harus dipenuhi beberapa syarat, antara
lain kejelasan gagasan, kepaduan unsur kalimat, kehematan, kecermatan,
kelogisan, kesejajaran, dan kevariasian.
B.
Semantik
Kajian, telaah, atau
analisis makna lazim disebut “semantik”. Sematik di dalam bahasa Indonesia
berasal dari bahasa inggris semantic. Kata
sematik berasal dari bahasa Yunani sema (nomina)
‘tanda’ atau ‘lambang’, yang verbanya semaino
‘menandai’ atau ‘melambangkan’. Dengan perkataan lain, semantic adalah
salah satu bidang linguistic yang mempelajari makna atau arti, asal usul,
pemakaian, perubahan, dan perkembangan. Istilah sematik baru muncul pada tahun
1894 yang dikenal melalui American philological
association dalam sebuah artikel yang berjudul Reflected Meaning: A; point in semantics
Berkenaan dengan
pengertian semantik, Palmer (1981:1) menyatakan dalam terjemahan bahasa Indonesia
“ semantik merupakan istilah teknis yang mengacu pada telaah makna, sementara
makna menjadi bagian dari bahasa, semantik menjadi bagian dari ilmu
linguistik”. Mulyono (1964:1) secara lebih terperinci menjelaskan bahwa
semantic adalah cabang ilmu linguistic yang bertugas menelaah makna kata,
bagaimana mulanya akata, bagaimana perkembangannya, dan apa sebab terjadi
perubahan makna dalm sejarah bahasa (Suwandi, 2008:9).
Selain istilah
semantic, pernah digunakan pula istilah semiotika,
semiology, semasiology,sememik, semik, dan signifik. Lehrer (1974) mengemukakan bahwa semantik merupakan
bidang yang sangat luas karena melibatkan unsur-unsurstruktur dan fungsi bahasa yang berkaitan erat dengan psikologi,
filsafat, antrofologi, dan sosoiologi. (Achamd HP dan Abdullah, 2013;87 – 89 ).
Semantic merupakan
bidang linguistic yang mempelajari makna tanda bahasa (Darmojuwono, 2005:116).
Sementara itu, kridalaksan (1993:193) menyatakan semantic merupakan bagaian
struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan suatu
struktur suatu wicara, system penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa
atau bahasa pada umumnya.
1.
RAGAM MAKNA
Makna dapat dibedakan
berdasarkan beberapa kriteria, antara lain berdasarkan jenis sematiknya, nilai
rasa, referensi, dan ketepatan makna. Kridalaksana (1984:120) mengemukakan
adanya berbagai ragam makna, yaitu makna denotative, konotatif, hakikat,
intensi, ekstensi, kognitif, leksikel, gramatikal, luas, sempit, pusat,
referensial, kontekstual, konstruksi, dan sebagainya.
(1)
Makna
leksikal
Makna leksikel adalah
makna leksem ketika leksem tersebut berdiri sendiri, baik dalam bentuk dasar
maupun bentuk derivasi dan maknanya kurang lebih tepat seperti dalam kamus.
Makna leksikal mengacu pada makna lambing kebahasaan yang masih bersifaat dasar,
yang belum mengalami konotasi dan hubungan gramatikal.atau, dengan ungkapan
lain merupakan makna yang sesuai dengan referensinya.
(2)
Makna
gramatikal
Makna gramatikal adalah
makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah leksem didalam sebuah
kalimat. Dalam konteks ini, Kridalaksana (1984:120) menegaskan bahwa makna
gramatikal menunjukan pada hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam
satuan-satuan yang lebih besar.
(3)
Makna
structural
Makna structural
merupakan istilah yang memiliki pengertian yang sama dengan istilah makna
gramatikal, makna fungsional, dan makna internal.
(4)
Makna
konstruksi
Makna konstruksi
merupakan makna yang terdapat dalam konstruksi kebahasaan.
(5)
Makna
kontekstual
Makna kontekstual
muncul sebagai akibat hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran
diproduksi. Suasana gembira, sedih, atau duka akan mempengaruhi pemilihan dan
penggunaan leksem-leksem.
(6)
Makna
konseptual
Makna konseptual
disebut juga makna denotative. Leech mengemukakan adanya dua prinsip, yaitu
ketidaksamaan dan prinsip struktur unsurnya. Prinsip ketidaksamaan dapat
dianalisis berdasrkan klasifikasi dalam tataran fonologi,setiap bunyi bahsa
ditandai + (positif) kalau ciri dipenuhi dan ditandai - (negatif)
jika ciri tidak dipenuhi. Makna konseptual disebut makna denotative,
yakni makna kata yang masih menujukan pada acuan dasarnya sesuai dengan
konvensi bersama. Makna denotative kerap disebut makna dasar, sedangkan makna
konotatif disebut makna tambahan.
(7)
Makna
kognitif
Makna kognitif adalah
aspek-aspek makna satuan bahasa yang berhubungan dengan ciri-ciri dalam alam
diluar bahasa atau penalaran ( Kridalaksana, 1984:120). Dalam makna kognitif,
pembicara mengatakan apa adanya dan dimaksudkan juga apa adanya.
(8)
Makna
deskriptif
Makna deskriptif
merupakan makna yang terkandung didalam setiap leksem. Makana deskriptif adalah makna yang ditunjukan oleh referen
lambangnya.
(9)
Makna
ideasional
Makna ideasional
merupakan makna yang muncul sebagai akibat penggunaan lekesem yang mempunyai
konsep. Kita harus dapat membedakan antara makna konseptual dan makn ideasional
yang terdapat dalam leksem misalnya investasi.
Konsep merupakan makna inti, sedangkan makna ideasional merupakan
kosekuensi atau hal yang di harapkan yang harus berlaku didalam suatu leksem.
(10)
Makna
referensial
Makna referential
merupakan makna unsur bahasa yang sangat dekat hubungannya dengan dunia luar
(objek atau gagasan), dan dapat dijelaskan oleh analisis komponen
(Kridalaksana, 1984:120). Makna reperensial merupakan makna yang langsung
berhubungan dengan acuan yang diamanatkan oleh leksem. Perbedaan antara
referensi dan sens terletakpada asosiasi hubungan makna yang ditampilkan.
Referensi menujukan pada hubungan antara elemen-elemen linguistic dan dunia
pengalaman luar bahasa. Adapun sens merupakan gambaran makna yang ditimbulkan
oleh adanya hubungan antara masing-masing elemen linguistic (unsur kebahasaan)
itu sendiri secara internal.
(11)
Makna Asosiatif
Maka asosiatif adalah
makna yang dimiliki oleh sebuah leksem atau kata dalam kaitannya dengan keadaan
diluar bahasa.
Pembedaan makna konseptual dengan
makna asosiatif dilakukan berdasarkan ada atau tidaknya hubungan
(asosiasi,refleksi) makna sebuah leksem dengan leksem yang lainnya. Makna
asosiatif bertalian erat dengan masyarakat pemakai bahasa,pandangan hidp yang
ada dalam masyarakat,dan nilai-nilai moral. Oleh karena itu,beberapa jenis
makna,seperti makna afektif,makna konotatif,dan kolokatif,serta stilistika
tercakup dalam makna asosiatif.
(12)
Makna Pusat
Makna pusat (central meaning ) adalah makna kata yang
umumnyadimengerti bilamana kata it diberikan tanpa konteks. Makna pusat disebut
juga makna tidak berciri.
Makna pusat (makna tidak berciri)
sering dipertentangkan dengan makna perluasan. Makna peruasan adalah makna ang
dikandung oleh suatu kata setelah kata tersebut mengalami proses
morfologis,baik berupa afiksasi,reduplikasi maupun komposisi.
(13)
Makna Luas
Makna luas (extended meaning) mengacu pada makna
yang terkandung pada sebuah leksem lebih luas dari kita perkirakan. Dapat
dinyatakan bahwa makna luas adalah makna ujaran yang lebih luas daripada makna
pusatnya.
(14)
Makna Sempit
Makna sempit ( narrowed meaning,specialized meaning ) makna
yang lebih sempit daripada makna pusatnya. Makin luas unsur leksem,maka mkin sempit
yang diacu.
(15)
Makna Intensional
Makna intensional ( intensional meaning) makna yang
menekankan maksud pembicara. Misalnya,”tolong copet !” makna yang diujarkan
oleh kelompok leksem itu adalah ada seorang yang berteriak minta tolong karena
dirinya telah menjad korban pencopetan.
Makna intensional menekankan pada
maksud. Oleh karena itu makna intensional bersifat subjektif. Pemberian makna
atas leksem tersebut sangat ditentukan oleh motivasi,skap,minat dan tujuan
penturunya.
(16)
Makna Ekstensional
Makna ekstensional (extensional meaning ) adalah makna yang
mencakup semua ciri objek atau konsep. Misalnya, leksem suami mempunyai makna (1) laki-laki (2) dewasa (3) telah menikah
dan (4) beristri. Dengan demikian,semua komponen yang membentuk pemahaman kita
tentang leksem itulah yang disebut makna ekstensional.
(17)
Makna Denotatif
Makna denotative ( denotative meaning ) makna kata yang
didasarkan atas penunjukan yang lugas,polos dan apa adanya. Makna denotatif
bersifat objektif,dengan demikian makna denotatif adalh makna yang sebenarnya.
Pada dasarnya,makna denotatif sama
dengan makna referensial sebab makna denotatif lazim diberi penjelasan sebagai
makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut
penglihatan,penciuman,pendengaran,perasaan dan pengalaman alamiah.
Makna denotatif dipertentangkan
dengan makna konotatif. Pembedaan antarkeduanya didasarkan ada atau tidaknya
nilai rasa dalam sebuah leksem.
(18)
Makna Konotatif
Makna konotatif
(connotative meaning ) adalah aspek makna sebuah atau sekelompok yang
didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada
pembicara (penulis )dan pendengar (pembaca) (kridalaksana,1984 : 106 ).
Konotasi adalah kesan-kesan atau asosiasi- asosiasi yang bersifat emosional dan
subjektif.
(19)
Makna Hakikat
Kata hakikat berarti
intisari atau dasar;kenyataan yang sebenarnya. Makna hakikat adalah makna
sebenarnya yaitu mengacu pada makna denotatif.
(20)
Makna Aktif
Makna afektif (affective meaning ) makna yang muncul
akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa. Makna afektif
bertalian dengan reaksi pendengar atau pembaca dalam dimensi rasa. Dengan
demikian,makna afektif bertalian pula dengan gaya bahasa.
(21)
Makna Emotif
Makna emotif (emotive meaning) makna yang timbul
karena adanya reaksi pembicara atau rangsangan pembicara mengeai penilaian
terhadap apa yang dipikirkan atau dirasakan. Jika ada orang yang berbicara
“dasar monyet !”,leksem monyet dihubungkan
dengan makna rupa yang jelek dan laku yang jelek. Bagi pendengar,leksem itu
berhungan dengan cacian atau penghinaan.
Hubungan makna kognitif dan emotif
dapat dibedakan atas : (1) hubungan
antara leksem dan acuan (denotasi) dan (2)
hubungan antara leksem dan karakteristik.
(22)
Makna Kolokatif
Makna kolokatif
biasanya berhubungan dengan penggunaan beberapa leksem di dalam lingkungan yang
sama (pateda,1989:60). Apabila kita berkata leksem buku,pulpen,pensil,tas,kamus,penggaris,penghaps,spidol,ulangan,tes,nilai,rapor,
dan sebagainya leksem-leksem itu lebih banyak berhubungan dengan sekolah.
(23)
Makna Idiomatikal
Makna idiomatikal
adalah makna sebuah kata,frasa atau juga kalimat yang menyimpang dari makna
leksikal ataupun gramatikal kata,frasa atau kalimat tersebut. Dalam idiomatikal
ada dua jenis idiom yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh yaitu
maknanya sama sekali tidak dapat ditentukan
berdasarkan unsur-unsur pembentuknya. Idiom sebagian yaitu maknanya
sebagian tergambarkan dari salah satu unsurnya.
(24)
Makna Kiasan
Makna kiasan (transferred meaning,figurative meaning) adalah
pemakaian leksem dengan makna yang tidak sebenarnya,makna kiasan terdapat pula
peribahasa atau perumpaan.misalnya, air
susu dibalas dengan air tuba.
(25)
Makna Stilistika
Makna stilistika adalah makna yag
timbul akibat pemakain bahasa. Makna stilistika berhubungan dengan pemakaian
bahasa yang menimbulkan efek,terutama pada pembaca. Oleh sebab itu,makna
stlistika lebih dirasakan di dalam karya sastra.
(26)
Makna proposional
Makna proposisional (propositional meaning ) adalah makna
yang muncul apabila kita membatasi pengertian kita tentang sesuatu. Makna ini
biasanya berhubungan dengan matematika atau hal yang sudah pasti. Misalny, sudut siku-siku mestilah 90 derajat. Maka proposisional dapat dipahami melalui
konteks.
(27)
Makna piktorial
makna piktorial (pictorial
meaning) makna yang muncul akibat bayangan pendengar terhadap leksem yang
didengarnya.
(28)
Makna Gereflekter
Makna gereflekter
muncul dalam hal makna konseptual yang jamak,makna yang muncul akibat reaksi
kita terhadap makna yang lain (pateda,1989 : 57 ). Makna gereflekter tidak saja
muncul karena sugesti emosional,tetapi juga berhubungan dengan leksem atau
ungkapan tabu. Hal-hal seperti itu,misalnya yang berhubungan dengan
seks,kepercayaan atau kebiasaan.
(29)
Makna Tematis
Makna tematis
dikomunikasikan oleh pembicara atau penulis
baik melalui urutan leksem-leksem,focus pembicaraan,maupun penekanan
pembicaraan.
(30)
Makna Kata dan Istilah
Perbedaa atas makna
kata dan makna istilah berdasaekan pada ketepatan penggunaan kata itu secara khusus
dan penggunaan secara umum. Makna kata masih bersifat umum,sedangkan makna
istilah berifat tetap dan pasti karena digunakan dalam suatu bidang kegiatan
atau disiplin tertentu.
4.4.4.2
RELASI MAKNA
Dalam suatu
bahasa,makna kata saling berhubungan,hubngan itu disebut relaksi makna. Tedapat
pelbagai wujud relasi makna menjadi bahasan dalam studi semantic,yaitu sebagai
berikut :
Homonimi
Homonimi adalah relasi
makna antarkata yang ditulis sama atau dilafalkan sama,tetapi maknanya berbeda.
Kata-kata yang ditulis sama tetapi bermakna berbeda disebut homograf,sedangkan
yang dilafalkan sama,tetapi bermakna berbeda disebut homofon. Contoh homograf
adalah tahu (makanan) dan tahu (paham atau mengerti ). Contoh dari
homofon yaitu bang (abang) behomofon
dengan bank (lembaga keuangan ).
Polisemi
Polisemi berkaitan
dengan kata atau frasa yang memiliki beberapa kata yang memiliki beberapa makna
yang berhubungan. Hubugan antarmakna ini disebut polisemi.
Sinonimi
Sinonimi adalah relasi
makna antarkata (frasa atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip.dengan
ungkapan lain,dapat dikatakan bahwa dua istilah atau lebih yang maknanya sama
atau mirip tetapi bentuknya berlainan disebut sinonim.
Antonimi atau Oposisi
Antonimi atau oposisi merupakan
relasi antarkata yang bertentangan atau berkebalikan maknanya. Istilah antonimi
dipakai untuk oposisi makna dalam pasangan leksikal betaraf dan leksikal tidak
bertaraf.
Meronimi
Meronimi adalah relasi
makna yang mewakili kmiripan dengan hiponimi karena relasi maknanya bersifat
hierarkis,teapi tidak menyiratkan pelibatan searah,merupakan relasi makna
bagian dengan keseluruhan. Contohnya adalah atap
bermeronimi dengan rumah.
Istilah meronimi ialah
istilah yang maujud ( entity) yang
ditunjuknya merupakan bagian yang menyeluruh. Istilah yang menyeluruh itu
disebut holonim .
Tubuh
kepala leher dada lengan
tungkai
bibir
atas bibir bawah
Bagan tersebut
memperlihatkan kata yang mengandung makna keseluruhan yang memiliki kedudukan
lebih tinggi daripada kata bagiannya atau makna keseluruhan dianggap meliputi
makna bagian.
Makna asosiatif
Makna asosiatif merupakan
asosiasi yang mncul dalam benak seseorang jika mendengar kata tertentu.
Asosiasi ini dipengaruhi oleh unsur-unsur psikis, pengetahuan,pengalaman dan pror knowledge.
Makna asosiatif terkait dengan
asosiasi yang ada dalam benak seseorang ketika mendengar atau membaca kata
tertentu. Berbeda dengan makna asosiatif,makna afektif berkaitan dengan
perasaan seseorang jika mendengar atau membaca kata tertentu.
Makna situatif
Kata-kata yang tergolong dieksis—
yakni konstruksi gramatikal yang rujukannya tidak tetap atau berpindah-pindah
karena bertolok dari posisi penutur-- seperti pronominal
(saya,kamu,anda),pronominal penunjuk (itu,ini),nomina yang merupakan keterangan
waktu (lusa,minggu depan),dan keterangan tempat (di situ, di sana, di sini)
makna referensialnya terkaiy dengan situasi pembicara.
Makna Etimologis
Makna etimologis berkaitan dengan
asal-usul kata dan perubahan makna kata dilihat dari aspek sejarah kata. Makna etimologis suatu kata mencerminkan
perubahan yang terjadi dengan kata tertentu. Melalui perubahan makna kata,dapat
ditelusuri perubahan nilai,norma,keadaan social-politik,dan keadaan suatu
masyarakat (Darmojuwono,2005 :120). Perubahan makna kata dapat menyempit dan
meluas.
Ambiguitas
Ambiguitas (ambiguity) pada sifat konstruksi yang dapat diberi lebih dari satu
penafsiran sehingg sering disebut sebagai konstruksi yang taksa atau aneka
makna. Polisemi dan ambiguitas terdapat perbedaan antarkeduanya.kebermaknaan
ganda polisemi berasal dari kata,sedangkan ambiguitas berasal dari frasa atau
kalimat yang terjadi sebagai akibat penafsiranstruktur gramatikalyang berbeda.
Redundasi
Redundansi (redundancy) didalam linguistic merupakan istilah yang mengacu pada
penggunaan konstituen yang dianggap tidak perlu secara semantik. Redundansi
merupakan pemakaian unsur segmentalyang berlebih-lebihan dalam suatu ujaran.
Contoh
: ibu sangat senang sekali membeli
baju ditoko-toko terkenal
4.4.4.3
PERUBAHAN MAKNA
Salah satu perubahan makna adalah
bersifat dinamis. Salah satu aspek perubahan bahasa adalah perubahan makna.
Perubahan makna dapat dianggap sebagai akibat hasil proses yang disebabkan oleh
hubungan sintagmatik ,rumpang didalam kosakata,perubahan konotasi,peralihan
dari pengacuan yang konkret kepengacuan abstrak,timbulnya gejala sinestisia dan
penerjemahan harfiah (Achmad HP dan Abdullah,2012:94)
Menurut
pateda (1989:71 faktor-faktor penyebab terjadinya perbubahan makna adalah
sebagai berikut:
1.
Bahasa
senantiasa berkembang
2.
Makna
sebuah leksem sering bersifat samar-samar atau kabur
3.
Kehilangan
motivasi
4.
Terdapat
makna ganda
5.
Struktur
kosakata
Menurut
Suwandi (2008:122) factor-faktor penyebab terjadinya perubahan makna adalah
sebagai berikt:
1.
Faktor
linguistik
2.
Faktor
kesejarahan
3.
Faktor
social masyarakat
4.
Faktor
psikologis
5.
Faktor
kebutuhan kata baru
6.
Faktor
perkembangan dan ilm dan teknologi
7.
Faktor
perbedaan bidang pemakaian atau lingkungan
8.
Faktor
pengaruh bahasa asing
9.
Faktor
asosiasi
10.
Faktor
pertukaran tanggapan indra
11.
Faktor
perbedaan tanggapan bahasa
12.
Faktor
penyingkatan
Jenis-jenis
perubahan makna dalam bahasa Indonesia:
1.
Perluasan
(generalisasi)
2.
Penyempitan
(spesialisasi)
3.
Peninggian
(ameliorasi)
4.
Penurunan
(peyorasi)
5.
Pertukaran
(sinestisia)
6.
Persamaan
(asosiasi)
7.
Metafora
Perluasan makna
Perluasan makna
merujuk pada perubahan makna yang ditandai oleh terjadinya perluasan atas
cakupan makna suatu kata. Dalam hal itu,pengertian suatu kata menjadi lebih
umum dan lebih luas dibandingkan dengan makna sebelumnya.
Penyempitan makna
Proses penyempitan
makna,suatu kata mengalami pengkhususan suatu makna sehingga lebih sempit cakupannya. Oleh karena itu,penyempitan
makna dapat disebut pembatasan makna karena makna kata yang bersifat umum
berubah menjadi khusus.
Misalnya
“ madarasah” makna lamanya adalah ‘sekoah’ tetapi mengalami penyempitan makna
yaitu ‘sekolah islam’.
Peningkatan Makna (Ameliorasi)
Peningkatan atau
peninggian makna (ameliorasi),merupakan perubahan makna kata yang
mengakibatkan makna baru yang muncul
dianggap memiliki rasa lebih
tinggi,lebih baik,dan lebih hormat dibandingkan makna semula ata makna lama.
Misalnya, wanita diandingkan dengan perempuan.
Penurunan Makna ( Peyorasi)
Penurunan makna atau
peyorasi adalah perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan
menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak,tidak baik,lebih rendah,dan kurang
halus ilainya dibandingkan dengan makna semula. Misalnya perempuan dibandingkan dengan wanita.
Pertukaran Makna (Sinestesia)
Pertukaran makna atau sinestisia
merupakan ungkapan yang bersangkutan dengan indera yang dipakai untuk objek
atau konsep tertentu dengan indera lain.
Perhatikanlah
kalimat dibawah ini :
·
Suara
emas Gita memang sangat sedap didengar
Persamaan (asosiasi)
Asosiasi adalah perubahan yang tejadi Karena adanya
persamaan sifat atau karena adanya tautan dalam ingatan pada orang atau barang
lain;pembentukan hubungan tau pertalian antara gagasan ,ingatan atau kegiatan
pancaindra.
Perhatikanlah
kalimat dibawah ini :
·
Perhelatan
pilkada di Indonesia sekadar pesta untuk saling berebut kursi
Metafora
Metafora merupakan
pemakaian kata atau sekelompok kata bukan dengan arti sebenarnya,melainkan
sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Menurut
kridalaksana (1984:123), metafora adalah pemakaian kata tertentu untuk objek
atau konsep lain berdasarkan kias atau persamaan. Misalnya, kaki gunung, membabi buta,dan merah membara.
2.
PERUBAHAN
MAKNA
Salah satu ciri bahasa
adalah bersifat dinamis. Bahasa mengalami perkembangan dan perubahan selaras
dengan perkembangan budaya masyarakat budaya penuturnya. Sifat dinamis bahasa
itulahyang menyebabkan bahasa bisa bertahan dalam eksisitensinya sebagai sarana
ekspresi instrumentatif ataupun integratif.
Salah satu aspek
perubahan bahasa adalah perubahan makna. Perubahan makna itu yang menjadi
sasaran kajian semantic historis. Perubahan makna dapat dianggap sebagai akibat
hasil proses yang disebabkan oleh hubungan sintagmatik, rumpang di dalam kosa
kata.
Pendapat lain tentang
factor-faktor penyebab terjadinya
perubahan makna dikemukakan oleh Pateda (1989:71), yaitu bahasa senatiasa
berkembang, makna sebuah leksem sering bersifat samar-samar atau kabur,
kehilangan motivasi, terdapat makna ganda, ambigu dan struktur kosakata.
(1) Perluasan makna
Yang dimaksud perubahan yang meluas adalah gejala yang
terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah
makna tetapi kemudian karena berbagai factor menjadi memiliki makna-makna yang
lain. Proses perluasan makna ini dapat terjadi dalam kurun waktu yang relative
singkat tetapi dapat juga dalam kurun waktu yang lama. Dan makna-makna lain
yang terjadi sebagai hasil perluasan makna itu masih berada dalam lingkup
poliseminya artinya masih ada hubungannya dengan makna asalnya. Seperti pada
kata saudara yang dahulu hanya mempunyai satu makna yaitu seperut atau
sekandungan sekarang berkembang menjadi bermakna lebih dari satu. Dan mempunyai
makna lain yaitu siapa saja yang sepertalian darah. Lebih jauh lagi sekarang
kata saudara bermakna siapapun orang tersebut dapat disebut saudara.
(2) Penyempitan makna
Perubahan menyempit merupakan suatu gejala yang terjadi pada
sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas namun kemudian
berubah menjadi terbatas hanya memiliki sebuah makna saja. Kata sarjana yang
pada mulanya berarti orang pandai atau cendekiawan dan sekarang kata itu hanya
memiliki sebuah makna saja yaitu orang yang lulus dari perguruan tinggi.
Sehingga sepandai apapun seseorang sebagai hasil dari belajar sendiri, kalau bukan
tamatan perguruan tinggi maka tidak bisa disebut sebagai sarjana. Sebaliknya
serendah berapapun indeks prestasi seseorang kalau dia sudah lulus dari
perguruan tinggi dia akan disebut sebagai sarjana.
(3) Peningkatan makna
Peningkatan atau peninggian makna atau disebut ameliorasi
merupakan perubahan makna kata yang mengakibatkaan makna baru yang muncul
dianggap memiliki rasa lebih tinggi, lebih baik, lebih hormat dibandingkan
makna semula atau makna lama.
3. PERGESERAN MAKNA
Bentuk adanya gerak dinamisdalam bahasa dapat berypa
perubahan makna, perluasan makna, penyempitan makna, dan pergeseran makna.
Pergeseran makna terjadi pada kata (frasa) bahasa Indonesia yang disebut eufimisme (melemahkan makna). Caranya dapat
dengan mengganti simbolnya dengan yang baru dan maknanya bergeser. Biasanya
terjadi pada kata-kata yang dianggap memiliki makna yang menyinggu perasaan
orang yang mengalaminya( perhatikan Achamd HP dan Abdullah: 2012 Djajasudarma,
1999).
Dikatakan pergeseran makna atau bukan pembatasan makna karena
dengan penggantian lambing (symbol makna semula masih berkaitan erat, tetapi
ada makna tambahan atau eufimisme) yang menghaluskan (pertimbangan akibat psikologis
bagi lawan bicara atau orang yang mengalami makna yang di ungkapkan kata atau
frasa yang disebutkan).
Sistem
Opisisi Bahasa
Didalam
khazanah linguistick ,terdapat istilah oposisi (opposition) yang berarti
‘pasangan’ . Sistem oposisi berarti pola pasangan dalam bahasa. Pola ini antara
lain berciri dan bertujuan untuk membedakan arti dan memperoleh jenis fonem .
Sistem oposisi bahasa terdiri atas system oposisi fonem, system oposisi suku kata (silabe) ,
system oposisi kata, dan system oposisi kalimat.
Sistem
Oposisi Fonem
Fonem
merupakan satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan arti. Oleh karena
itu,fonem bersifat fungsional dan distingtif. Di dalam linguistic , terdapat
cabang khusus yang mengkaji fonem, yaitu The
Phoneme and Outline of English Phonetis , menyatakan bahwa fonem baru
memiliki status sebagai fonem karena dioposisikan.
Oposisi
dapat dilakukan dengan membuat kontras antara dua kata . Misalnya, dua buah
kata yang memiliki bentuk yang sama , tetapi salah satu fonemnya berbeda.
Contoh:
Sikat beroposisi dengan sikut
fonem
/a/ dan/u/
Tari beroposisi dengan tali
fonem
/r/ dan /I/
Batu beroposisi dengan bata
fonem
/u/ dan /a/
Kata-kata
yang beroposisi tersebut memiliki perbedaan arti disebabkan perbedaan fonem
ysang beroposisi. Oposisi tersebut secra teknis disebut pasangan minimal, yang
merupakan salah satu cara mencari dan menghitung khazanah fonem suatu bahasa.
Sistem
Oposisi Silabe (suku kata)
Selain
terdapat oposisi fonem, terdapat pula oposisi silabe. Dua buah kata yang
memiliki perbedaan pada salah satu silabe akan menunjukan perbedaan arti.
Perhatikan contoh oposisi suku kata berikut ini.
Tamu
beroposisi dengan tahu
suku
kata mu dan hu
Mengangkut
beroposisi dengan terangkut
suku
kata meng- dan ter
Masak
dan pasak
suku
kata ma dan pa
Meja dan kerja
suku
kata me dan ker
Masing-masing kata yang beroposisi
tersebut jelas memiliki perbedaan arti yang terjadi karena salah satu suku
katanya berbeda.
Sistem
Oposisi Kata
Dalam
sebuah kalimat, peranan kata sangatlah penting. Keberadaan dan bentuk kata
dalam konteks kalimat sangat menentukan arti yang dikandung oleh kalimat tersebut. Perhatikanlah contoh
kalimat berikutini.
(1a) Kamu membawa bakso.
(1b) Saya membawa bakso.
Kedua kalimat tersebut memiliki makna
berbeda Karena ada posisi antara kata makan dan tidur.
Sistem Oposis Kalimat
Pada dasarnya , makna sebuah kalimatditentukan
oleh empat hal, yaitu urutan kata,bentuk kata.kata tugas dan intonasi. Keempat
aspek itu disebutsebagai sintacticak linkage device (alat-alat hubungan
sintraksis) . Oleh karena itu , oposisi kalimat dapat dibagi menjadi sebagai
berikut:
·
Sistem oposisi urutan
kata
·
Sistem oposisi bentuk
kata
·
Sistem oposisi kata
tugas
·
Sistem oposisiintonasi
DAFTAR PUSTAKA
Rosidin, Odien. 2015. Percikan
Lingusitik. Serang. Untirta Press
journal.fsrd.itb.ac.id/jurnal-desain/pdf_dir/issue_3_10_23_5.pdf